Minggu, 26 Maret 2017

Perihal Ego.

Seseorang memvonis kalau saya ini egois. Selalu menang dan tak mau kalah. Menganggap diri selalu benar sedang yang lain salah.

Tidak ada seorang egois pun di muka bumi ini yang menyadari kalau dia egois. Rata-rata orang egois, selalu mau menang, selalu menggap dirinya benar. Tiga hal itu sudah satu paket. Tambahkan lagi (boleh dianggap bonus), adalah childish. Sifat manusia usia berapa lagi yang semacam itu kalau bukan kanak-kanak? Manula, ya? Ya memang manula kan sifatnya kembali seperti anak-anak.

Maka mohon maafkan saya kalau saya demikian.
Tapi percayalah... Demi seseorang supaya tetap berdiri di samping saya, berjalan menggenggam tangan saya, duduk dan satu tangannya merangkul saya, saya akan selalu mau, meruntuhkan semua paket hemat kekanak-kanakan itu. Saya akan mau. Selalu mau.

Saya egosentris. Tapi setia. Saya berani jamin. Maka silahkan saja ancam, kalau kumat ego saya melonjak tinggi, ancam bahwa seseorang (yang saya maksud di atas)  akan pergi. Maka seketika ego itu diam. Lalu hilang. Tapi ya memang kudu berkali-kali diingatkan (berkali-kali diancam?).

Meskipun tak mau kalah dan tak terima dianggap salah, tapi saya paham dan setuju dengan satu pepatah, "when you are always right, then he left." Kalau kamu berpikir kamu selalu benar, maka dia pergi. Itu benar sekali. Seseorang bisa saja pergi hanya karena lelah selalu dianggap salah. Bosan dan capek mengalah. Lalu akhirnya menyerah. Dan saya tak mau itu terjadi pada hubungan saya. Maka jangan tanya.... Saya sudah selalu berkaca. Dan setiap memandang wajah yang saya lihat di kaca, tangan saya gatel. Ingin meremat dan melumat. Menjadi serpihan-serpihan tanpa manfaat. Lalu berakhir di tong sampah. Dan saya tak henti-hentinya mengucap sumpah serapah.

"Kenapa sedemikian egoisnya???!"

Sabtu, 25 Maret 2017

Yah, Ma, aku perjalanan pulang...

"Yah, Ma, aku perjalanan pulang... "

Kalimat ini yang selalu saya kirim di grup WA keluarga setiap kali akan pulang. Dan, kalimat inilah, yang paling menyenangkan. Yang membuat beban yang bertumpuk seolah hilang. Padahal masih tinggi menjulang.

Meski sudah menginjak usia remaja, tapi dalam hal ini saya merasa sama dengan bocah SD rata-rata. Bahagia luar biasa ketika mendengar lonceng tanda pulang.
Saya pun. Bukan main senangnya kalau sudah waktunya pulang. Lalu di sepanjang perjalanan seolah bertebaran semua hal baik di dunia. Panas terik tidak terasa. Jalanan macet, debu, lampu merah yang lama dan 'amburadul'nya seantero lalu lintas seperti tidak ada artinya. Karena fokus saya hanya pada 'sebentar lagi sampai rumah'. Maka silahkan saja kalau mau membuat keributan di jalan raya yang membuat semakin stress para polisi dan kebanyakan pengendara, saya tak peduli. Hati saya sudah terlalu adem bersama terkirimnya pesan 'pulang' pada Ayah dan Mama di rumah.

Padahal... Kalau sudah sampai rumah, kadang mama sedang tidur, ayah berangkat kerja, adek masih sekolah serta lain-lain hal yang membuat saya 'krik' dan ujung-ujungnya jadi pengangguran berijazah. Tapi itu tak pernah jadi masalah. Yang penting saya sudah di rumah. Mama tidur, sebentar lagi juga bangun. Ayah kerja sebentar lagi juga pulang. Tinggal sabar saja menunggu.

Dan satu hal yang paling utama tak boleh dilupa adalah...
.
.
.
Makan di rumah itu gratis dan sepuasnya. Bisa hemat uang jajan kan? Maklum anak kos...

(* ̄︶ ̄*)

Jumat, 24 Maret 2017

Tentang perempuan dan hatinya yang sering bungkam.

Seseorang seringkali protes, "Jangan diam. Ungkapkan, sebelum semuanya jadi tak terkendali. Lalu kamu nggak tahan, dan pergi."

Saya mengerti. Siapapun tahu, diam memang bukan solusi. Saya setuju itu.
Tapi bagaimana?

Tidak semua hal dalam hati begitu ringan untuk dikeluarkan.

Bagi perempuan sejenis saya, (entah ada berapa jenis perempuan di dunia), butuh efforts yang lebih untuk bisa membeberkan semua isi hati panjang lebar begitu saja. 

Saat perasaan keluar dari hati, sepertinya, dua paru saya menjelma timbangan dengan 'hal yang boleh diungkapkan' di satu sisi dan 'hal yang jangan diungkapkan' di sisi lainnya. Lalu jika perasaan itu menduduki bagian yang 'boleh', maka dia akan disalurkan ke pita suara dan keluar dari kepala. Sebaliknya, sekali menurut saya perasaan itu duduk di sisi timbangan yang 'jangan', maka diamlah dia.
Menurutmu ini mudah?

Tidak sama sekali.
Perasaan yang sudah keluar dari hati itu, dia tidak kembali. Masuk lagi ke hati seperti layangan yang sudah diulur tinggi ke langit kemudian di tarik lagi dengan benang dan disimpan lagi di lemari. Tidak begitu. Perasaan itu diam di sisi timbangan (paru-paru) yang 'jangan', lalu tumbuh dan mengembang, memenuhi selapang paru, menyesaki dada, dan memberatkan kepala.

"Kalau begitu ya sudah. Utarakan. Biar enteng." katanya kemudian.

Saya tak mau ke utara. Saya mau berdiam saja di selatan, timur atau barat daya. Meski sesak di dada, meski berat di kepala. Tapi saya tahu saya aman di sana.

Iya. Aman.
.
.
.
(dari tuduhanmu bahwa saya ini perempuan yang cemburuan).

Terima kasih.