Seseorang memvonis kalau saya ini egois. Selalu menang dan tak mau kalah. Menganggap diri selalu benar sedang yang lain salah.
Tidak ada seorang egois pun di muka bumi ini yang menyadari kalau dia egois. Rata-rata orang egois, selalu mau menang, selalu menggap dirinya benar. Tiga hal itu sudah satu paket. Tambahkan lagi (boleh dianggap bonus), adalah childish. Sifat manusia usia berapa lagi yang semacam itu kalau bukan kanak-kanak? Manula, ya? Ya memang manula kan sifatnya kembali seperti anak-anak.
Maka mohon maafkan saya kalau saya demikian.
Tapi percayalah... Demi seseorang supaya tetap berdiri di samping saya, berjalan menggenggam tangan saya, duduk dan satu tangannya merangkul saya, saya akan selalu mau, meruntuhkan semua paket hemat kekanak-kanakan itu. Saya akan mau. Selalu mau.
Saya egosentris. Tapi setia. Saya berani jamin. Maka silahkan saja ancam, kalau kumat ego saya melonjak tinggi, ancam bahwa seseorang (yang saya maksud di atas) akan pergi. Maka seketika ego itu diam. Lalu hilang. Tapi ya memang kudu berkali-kali diingatkan (berkali-kali diancam?).
Meskipun tak mau kalah dan tak terima dianggap salah, tapi saya paham dan setuju dengan satu pepatah, "when you are always right, then he left." Kalau kamu berpikir kamu selalu benar, maka dia pergi. Itu benar sekali. Seseorang bisa saja pergi hanya karena lelah selalu dianggap salah. Bosan dan capek mengalah. Lalu akhirnya menyerah. Dan saya tak mau itu terjadi pada hubungan saya. Maka jangan tanya.... Saya sudah selalu berkaca. Dan setiap memandang wajah yang saya lihat di kaca, tangan saya gatel. Ingin meremat dan melumat. Menjadi serpihan-serpihan tanpa manfaat. Lalu berakhir di tong sampah. Dan saya tak henti-hentinya mengucap sumpah serapah.
"Kenapa sedemikian egoisnya???!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar