Sabtu, 23 September 2017

Curahan Hati Biji Wijen.

Persyaratan administrasi CPNS untuk dokter hanya menerima dokter lulusan FK di PTN dengan akreditasi A dan B, serta PTS dengan akreditasi A saja.

Sebagai mahasiswa FK di PTS berakreditasi B, sedih ndak?

Dibilang sedih, ya sedih... Dibilang ndak, ya emang ndak juga.

Saya sih percaya, takdir memang tak bisa dilawan. Tapi bukan berarti Tuhan memberi batasan bagi hambaNya dalam mengejar dan berjuang.

Tuhan tidak menciptakan takdir sebagai batasan... Tuhan menciptakan takdir sebagai salah satu bentuk anugrah, atau sebaliknya sebagai ujian berujung hikmah.

Kalau takdir itu dinding tinggi dan kokoh yang tak bisa kita rusak untuk menerobos... Itu artinya Tuhan ingin kita menaikinya.

Panjat dindingnya.

Saat memanjat, akan kita lihat bagaimana tangan Tuhan bekerja menjulur demikian panjang.

Saat sudah mencapai atas, bayangkan saja, apa yang kira-kira akan orang-orang lihat dari ketinggian sana?

Bukan masalahnya saya terlalu percaya diri... Atau mungkin semata-mata hanya untuk menghibur diri. Tapi saya benar-benar yakin saja... Tuhan tidak sekejam itu dengan bersikap diskriminasi.

Tuhan hanya memberikan beberapa beban sebagai ujian. Tapi sekali lagi bukan memberi batasan.

Tidak mungkin Tuhan membiarkan semua jalan terbuntu. Kalau ada satu yang buntu, cari saja jalan lain. Jalan lainnya terbuntu juga? Ya cari lagi jalan lainnya. Pasti ada yang terbuka.

Tuhan memang terkadang sebercanda itu. Mungkin awalnya semua itu membuat kita kesal... Tapi suatu saat kita sudah bisa melampauinya... Kita akan bisa tertawa. Bercanda bersama Tuhan. MenganggapNya maha baik dengan segala kelucuan di belakang.

Lagian semua ini hanya peraturan menteri. Sedangkan Tuhan itu maha raja dari segala penjuru semesta, maha tinggi dari segala yang tertinggi.  Maka akan jadi lucu sekali saat harapan kita patah hanya karena ini. Lalu dengan dangkalnya merutuki nasib, dan menganggap bahwa perputaran bumi terhenti untuk kita yang 'apalah' ini.

Sejauh ini, Tuhan hanya membuat satu peraturan mutlak; Bersungguh-sungguhlah maka kamu akan dapat. Itu saja.

Saya ini mungkin hanya biji wijen. Tapi bukan tidak mungkin kalau suatu saat nanti Tuhan menjadikan saya jajanan yang enak dan mengenyangkan, dengan menempelkan saya pada bulatan adonan onde-onde yang besar. Dan saya akan terjual dengan harga yang mahal.

Ya ndak? :)

Salam biji wijen!

Senin, 17 April 2017

Perihal perempuan yang menanam kekecewaan.

Ada yang bilang, bahwa kecewa adalah tingkat tertinggi dari seluruh macam-macam perasaan tidak nyaman.

Apakah itu artinya lebih tinggi dari teriakan amarah? Banting pintu, buang hape, lempar kursi dam robek-robek sprei? Apa juga lebih tinggi dari tangis sesenggukan di balik pintu di pojokan sesempitan lemari?

Ya. Bisa jadi.

Saya setuju, kok.
Karena meski kecewa itu diam, terlihat lebih tenang daripada amarah atau tangisan, tapi dalam perut kekecewaan sudah mengandung benih-benih enggan, yang kemudian lahir ketidakpedulian. Semacam kebas. Mati rasa. "Kamu mau apa ya silahkan." Semacam sudah "bukan lagi bagian dari urusan".

Kecewa memang tidak ada ekspresinya. Mau marah atau nangis itu rasanya ngapain? Maka jangan heran kalau benak yang kecewa memang seperti biasa saja. Benak yang kecewa tetap bisa menertawakan kelucuan, menawarkan kehebohan, santai sekali berbaur dengan segala jenis obrolan. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada. Seperti air yang tenang tapi dalamnya sunggug menghanyutkan. Seperti gunung es yang terlihat kecil pucuknya tapi luar biasa sekali yang tenggelam di dasar lautan.

Kecewa juga susah sekali mendefinisikannya. Bukan tidak ada. Tapi rasanya seperti sudah habis semua kata-kata, hanya bersisa; "Oh gitu ya... Baiklah."

Bagi perempuan. Kecewa bukan saja tentang perasaan. Tapi juga pengaruhnya pada kepercayaan. Ada saja hal-hal yang  lantas membuatnya jadi berpikir, menimbang-nimbang, memperhitungkan, mengait-ngaitkan, padahal sebelumnya tak pernah. Cinta dan perhitungan itu lawan arah. Berbanding terbalik. Tapi saat sudah tertanam kecewa, maka cinta dan perhitungan akan bisa berdampingan. Menyusuri jalan-jalan ke depan, mengganggu, membuat tak nyaman dan entah apa yang terjadi kemudian. Ah, bahkan kekecewaan mampu memotong habis semua kepedulian tentang hal-hal di depan. "Entah apa yang terjadi, terjadilah. Aku sih pasrah..."

Maka jangan pernah remehkan batin yang kecewa. Sekali dia tertanam, maka dia akan tumbuh dan berkembang, subur sekali menjalari tanah seluruh lahan. Memangkas habis segala bunga-bungaan. Bahkan rimbun dan sangat mampu menghalangi seluruh jalan.

Sampai tapak dua pasang kaki terhenti, dan baru menyadari... Kalian sudah tak bisa melangkah lagi.

Pada akhirnya. Perempuan. Mereka yang seringkali tak mengetahui bagaimana menyampaikan kekecewaan lalu hanya memilih bungkam, memutuskan mengambil jarak diam-diam. Tak ada maksud suapaya berjauhan.  Itu hanya mekanisme sesaat, sebagai kompensasi supaya segalanya tetap akan selamat.

Diam dan mengambil jarak sementara. Membuat jeda untuk hati supaya kembali menemukan lega.

Pada kecewa yang lebih dalam, maka jeda juga akan diambil lebih panjang. Supaya efek mengerikan dari kecewa seperti tidak peduli dan mati rasa tidak terjadi. Jangan sampai terjadi.

Karena konon, yang membuat pergi dan cinta mati bukannya benci, tapi tidak lagi peduli.

Senin, 03 April 2017

Dismenore; latihan sakit.

Setiap kali dismenore datang, si Mama selalu bilang,
"Udah nggak usah diobatin pake apa-apa. Nikmatin aja. Itung-itung latihan menahan sakit. Dan nggak usah lebay gitu posenya."

Yang tidak sependapat cung tangan!
Saya!
Dismenore atau yang pada orang jawa lebih dikenal sebagai 'dilep' atau 'dilepen'. Adalah nyeri pra-mens, yang mana, sakitnya itu jaaaauh sekali melebihi sakit hati ditinggal pergi (yakali). Atau boleh saja kalau mau disetarakan dengan sakit di semua gigi---berjamaah 32 biji.
Mau dinikmati bagaimana? Latihan menahan sakit biar apa?

"Nanti, kalau sudah hamil, terus melahirkan, baru kamu tahu. Dilepmu yang dramatis itu, kalau mau dibandingin nggak akan bisa nyanding walau seujung kuku. Percaya!"

Oooo....... Paham.
Jadi begitu maksudnya itu. Latihan menahan sakit. Karena sesakit apapun dismenore, dilep, nyeri pra-mens, nggak ada apa-apanya berbanding sakitnya ibu hamil yang sakitnya diakumulasi sampai selama 9 bulan, atau lebih hebat lagi yang sedang lahiran. Uhh!

Maka setiap wanita memang harus kuat. Supaya kuat menanggung kodrat.
Menjaga fitrah untuk selalu mampu menahan apapun yang terjadi pada dirinya. Karena tanpa kekuatan, seorang wanita hanya akan menjadi boneka. Hanya bisa nangkring di pajangan dan nggak akan bisa jadi 'tiang negara'. Cuman bisa berdandan tanpa bisa diandalkan.

Kira-kira seperti itu pesan moral dari dismenore fisiologis ini.

Maka, dengan khidmad saya teriakkan: "Keep strong untuk kita!"
Supaya bisa jadi tiang negara, berdiri jadi pondasi, dan kokoh melindungi. (jadi kayak jargon iklan, ya).
Oke baiklah. Sekian postingan kali ini. Semoga ada aja manfaatnya (entah apa).

Wassalam. 🙏

Ps: ini postingan yang dirilis sambil nyungir-nyungir nahan sakit. Laba'sa tohurun!

Minggu, 26 Maret 2017

Perihal Ego.

Seseorang memvonis kalau saya ini egois. Selalu menang dan tak mau kalah. Menganggap diri selalu benar sedang yang lain salah.

Tidak ada seorang egois pun di muka bumi ini yang menyadari kalau dia egois. Rata-rata orang egois, selalu mau menang, selalu menggap dirinya benar. Tiga hal itu sudah satu paket. Tambahkan lagi (boleh dianggap bonus), adalah childish. Sifat manusia usia berapa lagi yang semacam itu kalau bukan kanak-kanak? Manula, ya? Ya memang manula kan sifatnya kembali seperti anak-anak.

Maka mohon maafkan saya kalau saya demikian.
Tapi percayalah... Demi seseorang supaya tetap berdiri di samping saya, berjalan menggenggam tangan saya, duduk dan satu tangannya merangkul saya, saya akan selalu mau, meruntuhkan semua paket hemat kekanak-kanakan itu. Saya akan mau. Selalu mau.

Saya egosentris. Tapi setia. Saya berani jamin. Maka silahkan saja ancam, kalau kumat ego saya melonjak tinggi, ancam bahwa seseorang (yang saya maksud di atas)  akan pergi. Maka seketika ego itu diam. Lalu hilang. Tapi ya memang kudu berkali-kali diingatkan (berkali-kali diancam?).

Meskipun tak mau kalah dan tak terima dianggap salah, tapi saya paham dan setuju dengan satu pepatah, "when you are always right, then he left." Kalau kamu berpikir kamu selalu benar, maka dia pergi. Itu benar sekali. Seseorang bisa saja pergi hanya karena lelah selalu dianggap salah. Bosan dan capek mengalah. Lalu akhirnya menyerah. Dan saya tak mau itu terjadi pada hubungan saya. Maka jangan tanya.... Saya sudah selalu berkaca. Dan setiap memandang wajah yang saya lihat di kaca, tangan saya gatel. Ingin meremat dan melumat. Menjadi serpihan-serpihan tanpa manfaat. Lalu berakhir di tong sampah. Dan saya tak henti-hentinya mengucap sumpah serapah.

"Kenapa sedemikian egoisnya???!"

Sabtu, 25 Maret 2017

Yah, Ma, aku perjalanan pulang...

"Yah, Ma, aku perjalanan pulang... "

Kalimat ini yang selalu saya kirim di grup WA keluarga setiap kali akan pulang. Dan, kalimat inilah, yang paling menyenangkan. Yang membuat beban yang bertumpuk seolah hilang. Padahal masih tinggi menjulang.

Meski sudah menginjak usia remaja, tapi dalam hal ini saya merasa sama dengan bocah SD rata-rata. Bahagia luar biasa ketika mendengar lonceng tanda pulang.
Saya pun. Bukan main senangnya kalau sudah waktunya pulang. Lalu di sepanjang perjalanan seolah bertebaran semua hal baik di dunia. Panas terik tidak terasa. Jalanan macet, debu, lampu merah yang lama dan 'amburadul'nya seantero lalu lintas seperti tidak ada artinya. Karena fokus saya hanya pada 'sebentar lagi sampai rumah'. Maka silahkan saja kalau mau membuat keributan di jalan raya yang membuat semakin stress para polisi dan kebanyakan pengendara, saya tak peduli. Hati saya sudah terlalu adem bersama terkirimnya pesan 'pulang' pada Ayah dan Mama di rumah.

Padahal... Kalau sudah sampai rumah, kadang mama sedang tidur, ayah berangkat kerja, adek masih sekolah serta lain-lain hal yang membuat saya 'krik' dan ujung-ujungnya jadi pengangguran berijazah. Tapi itu tak pernah jadi masalah. Yang penting saya sudah di rumah. Mama tidur, sebentar lagi juga bangun. Ayah kerja sebentar lagi juga pulang. Tinggal sabar saja menunggu.

Dan satu hal yang paling utama tak boleh dilupa adalah...
.
.
.
Makan di rumah itu gratis dan sepuasnya. Bisa hemat uang jajan kan? Maklum anak kos...

(* ̄︶ ̄*)

Jumat, 24 Maret 2017

Tentang perempuan dan hatinya yang sering bungkam.

Seseorang seringkali protes, "Jangan diam. Ungkapkan, sebelum semuanya jadi tak terkendali. Lalu kamu nggak tahan, dan pergi."

Saya mengerti. Siapapun tahu, diam memang bukan solusi. Saya setuju itu.
Tapi bagaimana?

Tidak semua hal dalam hati begitu ringan untuk dikeluarkan.

Bagi perempuan sejenis saya, (entah ada berapa jenis perempuan di dunia), butuh efforts yang lebih untuk bisa membeberkan semua isi hati panjang lebar begitu saja. 

Saat perasaan keluar dari hati, sepertinya, dua paru saya menjelma timbangan dengan 'hal yang boleh diungkapkan' di satu sisi dan 'hal yang jangan diungkapkan' di sisi lainnya. Lalu jika perasaan itu menduduki bagian yang 'boleh', maka dia akan disalurkan ke pita suara dan keluar dari kepala. Sebaliknya, sekali menurut saya perasaan itu duduk di sisi timbangan yang 'jangan', maka diamlah dia.
Menurutmu ini mudah?

Tidak sama sekali.
Perasaan yang sudah keluar dari hati itu, dia tidak kembali. Masuk lagi ke hati seperti layangan yang sudah diulur tinggi ke langit kemudian di tarik lagi dengan benang dan disimpan lagi di lemari. Tidak begitu. Perasaan itu diam di sisi timbangan (paru-paru) yang 'jangan', lalu tumbuh dan mengembang, memenuhi selapang paru, menyesaki dada, dan memberatkan kepala.

"Kalau begitu ya sudah. Utarakan. Biar enteng." katanya kemudian.

Saya tak mau ke utara. Saya mau berdiam saja di selatan, timur atau barat daya. Meski sesak di dada, meski berat di kepala. Tapi saya tahu saya aman di sana.

Iya. Aman.
.
.
.
(dari tuduhanmu bahwa saya ini perempuan yang cemburuan).

Terima kasih.