Ada yang bilang, bahwa kecewa adalah tingkat tertinggi dari seluruh macam-macam perasaan tidak nyaman.
Apakah itu artinya lebih tinggi dari teriakan amarah? Banting pintu, buang hape, lempar kursi dam robek-robek sprei? Apa juga lebih tinggi dari tangis sesenggukan di balik pintu di pojokan sesempitan lemari?
Ya. Bisa jadi.
Saya setuju, kok.
Karena meski kecewa itu diam, terlihat lebih tenang daripada amarah atau tangisan, tapi dalam perut kekecewaan sudah mengandung benih-benih enggan, yang kemudian lahir ketidakpedulian. Semacam kebas. Mati rasa. "Kamu mau apa ya silahkan." Semacam sudah "bukan lagi bagian dari urusan".
Kecewa memang tidak ada ekspresinya. Mau marah atau nangis itu rasanya ngapain? Maka jangan heran kalau benak yang kecewa memang seperti biasa saja. Benak yang kecewa tetap bisa menertawakan kelucuan, menawarkan kehebohan, santai sekali berbaur dengan segala jenis obrolan. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada. Seperti air yang tenang tapi dalamnya sunggug menghanyutkan. Seperti gunung es yang terlihat kecil pucuknya tapi luar biasa sekali yang tenggelam di dasar lautan.
Kecewa juga susah sekali mendefinisikannya. Bukan tidak ada. Tapi rasanya seperti sudah habis semua kata-kata, hanya bersisa; "Oh gitu ya... Baiklah."
Bagi perempuan. Kecewa bukan saja tentang perasaan. Tapi juga pengaruhnya pada kepercayaan. Ada saja hal-hal yang lantas membuatnya jadi berpikir, menimbang-nimbang, memperhitungkan, mengait-ngaitkan, padahal sebelumnya tak pernah. Cinta dan perhitungan itu lawan arah. Berbanding terbalik. Tapi saat sudah tertanam kecewa, maka cinta dan perhitungan akan bisa berdampingan. Menyusuri jalan-jalan ke depan, mengganggu, membuat tak nyaman dan entah apa yang terjadi kemudian. Ah, bahkan kekecewaan mampu memotong habis semua kepedulian tentang hal-hal di depan. "Entah apa yang terjadi, terjadilah. Aku sih pasrah..."
Maka jangan pernah remehkan batin yang kecewa. Sekali dia tertanam, maka dia akan tumbuh dan berkembang, subur sekali menjalari tanah seluruh lahan. Memangkas habis segala bunga-bungaan. Bahkan rimbun dan sangat mampu menghalangi seluruh jalan.
Sampai tapak dua pasang kaki terhenti, dan baru menyadari... Kalian sudah tak bisa melangkah lagi.
Pada akhirnya. Perempuan. Mereka yang seringkali tak mengetahui bagaimana menyampaikan kekecewaan lalu hanya memilih bungkam, memutuskan mengambil jarak diam-diam. Tak ada maksud suapaya berjauhan. Itu hanya mekanisme sesaat, sebagai kompensasi supaya segalanya tetap akan selamat.
Diam dan mengambil jarak sementara. Membuat jeda untuk hati supaya kembali menemukan lega.
Pada kecewa yang lebih dalam, maka jeda juga akan diambil lebih panjang. Supaya efek mengerikan dari kecewa seperti tidak peduli dan mati rasa tidak terjadi. Jangan sampai terjadi.
Karena konon, yang membuat pergi dan cinta mati bukannya benci, tapi tidak lagi peduli.