Senin, 17 April 2017

Perihal perempuan yang menanam kekecewaan.

Ada yang bilang, bahwa kecewa adalah tingkat tertinggi dari seluruh macam-macam perasaan tidak nyaman.

Apakah itu artinya lebih tinggi dari teriakan amarah? Banting pintu, buang hape, lempar kursi dam robek-robek sprei? Apa juga lebih tinggi dari tangis sesenggukan di balik pintu di pojokan sesempitan lemari?

Ya. Bisa jadi.

Saya setuju, kok.
Karena meski kecewa itu diam, terlihat lebih tenang daripada amarah atau tangisan, tapi dalam perut kekecewaan sudah mengandung benih-benih enggan, yang kemudian lahir ketidakpedulian. Semacam kebas. Mati rasa. "Kamu mau apa ya silahkan." Semacam sudah "bukan lagi bagian dari urusan".

Kecewa memang tidak ada ekspresinya. Mau marah atau nangis itu rasanya ngapain? Maka jangan heran kalau benak yang kecewa memang seperti biasa saja. Benak yang kecewa tetap bisa menertawakan kelucuan, menawarkan kehebohan, santai sekali berbaur dengan segala jenis obrolan. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada. Seperti air yang tenang tapi dalamnya sunggug menghanyutkan. Seperti gunung es yang terlihat kecil pucuknya tapi luar biasa sekali yang tenggelam di dasar lautan.

Kecewa juga susah sekali mendefinisikannya. Bukan tidak ada. Tapi rasanya seperti sudah habis semua kata-kata, hanya bersisa; "Oh gitu ya... Baiklah."

Bagi perempuan. Kecewa bukan saja tentang perasaan. Tapi juga pengaruhnya pada kepercayaan. Ada saja hal-hal yang  lantas membuatnya jadi berpikir, menimbang-nimbang, memperhitungkan, mengait-ngaitkan, padahal sebelumnya tak pernah. Cinta dan perhitungan itu lawan arah. Berbanding terbalik. Tapi saat sudah tertanam kecewa, maka cinta dan perhitungan akan bisa berdampingan. Menyusuri jalan-jalan ke depan, mengganggu, membuat tak nyaman dan entah apa yang terjadi kemudian. Ah, bahkan kekecewaan mampu memotong habis semua kepedulian tentang hal-hal di depan. "Entah apa yang terjadi, terjadilah. Aku sih pasrah..."

Maka jangan pernah remehkan batin yang kecewa. Sekali dia tertanam, maka dia akan tumbuh dan berkembang, subur sekali menjalari tanah seluruh lahan. Memangkas habis segala bunga-bungaan. Bahkan rimbun dan sangat mampu menghalangi seluruh jalan.

Sampai tapak dua pasang kaki terhenti, dan baru menyadari... Kalian sudah tak bisa melangkah lagi.

Pada akhirnya. Perempuan. Mereka yang seringkali tak mengetahui bagaimana menyampaikan kekecewaan lalu hanya memilih bungkam, memutuskan mengambil jarak diam-diam. Tak ada maksud suapaya berjauhan.  Itu hanya mekanisme sesaat, sebagai kompensasi supaya segalanya tetap akan selamat.

Diam dan mengambil jarak sementara. Membuat jeda untuk hati supaya kembali menemukan lega.

Pada kecewa yang lebih dalam, maka jeda juga akan diambil lebih panjang. Supaya efek mengerikan dari kecewa seperti tidak peduli dan mati rasa tidak terjadi. Jangan sampai terjadi.

Karena konon, yang membuat pergi dan cinta mati bukannya benci, tapi tidak lagi peduli.

Senin, 03 April 2017

Dismenore; latihan sakit.

Setiap kali dismenore datang, si Mama selalu bilang,
"Udah nggak usah diobatin pake apa-apa. Nikmatin aja. Itung-itung latihan menahan sakit. Dan nggak usah lebay gitu posenya."

Yang tidak sependapat cung tangan!
Saya!
Dismenore atau yang pada orang jawa lebih dikenal sebagai 'dilep' atau 'dilepen'. Adalah nyeri pra-mens, yang mana, sakitnya itu jaaaauh sekali melebihi sakit hati ditinggal pergi (yakali). Atau boleh saja kalau mau disetarakan dengan sakit di semua gigi---berjamaah 32 biji.
Mau dinikmati bagaimana? Latihan menahan sakit biar apa?

"Nanti, kalau sudah hamil, terus melahirkan, baru kamu tahu. Dilepmu yang dramatis itu, kalau mau dibandingin nggak akan bisa nyanding walau seujung kuku. Percaya!"

Oooo....... Paham.
Jadi begitu maksudnya itu. Latihan menahan sakit. Karena sesakit apapun dismenore, dilep, nyeri pra-mens, nggak ada apa-apanya berbanding sakitnya ibu hamil yang sakitnya diakumulasi sampai selama 9 bulan, atau lebih hebat lagi yang sedang lahiran. Uhh!

Maka setiap wanita memang harus kuat. Supaya kuat menanggung kodrat.
Menjaga fitrah untuk selalu mampu menahan apapun yang terjadi pada dirinya. Karena tanpa kekuatan, seorang wanita hanya akan menjadi boneka. Hanya bisa nangkring di pajangan dan nggak akan bisa jadi 'tiang negara'. Cuman bisa berdandan tanpa bisa diandalkan.

Kira-kira seperti itu pesan moral dari dismenore fisiologis ini.

Maka, dengan khidmad saya teriakkan: "Keep strong untuk kita!"
Supaya bisa jadi tiang negara, berdiri jadi pondasi, dan kokoh melindungi. (jadi kayak jargon iklan, ya).
Oke baiklah. Sekian postingan kali ini. Semoga ada aja manfaatnya (entah apa).

Wassalam. 🙏

Ps: ini postingan yang dirilis sambil nyungir-nyungir nahan sakit. Laba'sa tohurun!