Seseorang seringkali protes, "Jangan diam. Ungkapkan, sebelum semuanya jadi tak terkendali. Lalu kamu nggak tahan, dan pergi."
Saya mengerti. Siapapun tahu, diam memang bukan solusi. Saya setuju itu.
Tapi bagaimana?
Tidak semua hal dalam hati begitu ringan untuk dikeluarkan.
Bagi perempuan sejenis saya, (entah ada berapa jenis perempuan di dunia), butuh efforts yang lebih untuk bisa membeberkan semua isi hati panjang lebar begitu saja.
Saat perasaan keluar dari hati, sepertinya, dua paru saya menjelma timbangan dengan 'hal yang boleh diungkapkan' di satu sisi dan 'hal yang jangan diungkapkan' di sisi lainnya. Lalu jika perasaan itu menduduki bagian yang 'boleh', maka dia akan disalurkan ke pita suara dan keluar dari kepala. Sebaliknya, sekali menurut saya perasaan itu duduk di sisi timbangan yang 'jangan', maka diamlah dia.
Menurutmu ini mudah?
Tidak sama sekali.
Perasaan yang sudah keluar dari hati itu, dia tidak kembali. Masuk lagi ke hati seperti layangan yang sudah diulur tinggi ke langit kemudian di tarik lagi dengan benang dan disimpan lagi di lemari. Tidak begitu. Perasaan itu diam di sisi timbangan (paru-paru) yang 'jangan', lalu tumbuh dan mengembang, memenuhi selapang paru, menyesaki dada, dan memberatkan kepala.
"Kalau begitu ya sudah. Utarakan. Biar enteng." katanya kemudian.
Saya tak mau ke utara. Saya mau berdiam saja di selatan, timur atau barat daya. Meski sesak di dada, meski berat di kepala. Tapi saya tahu saya aman di sana.
Iya. Aman.
.
.
.
(dari tuduhanmu bahwa saya ini perempuan yang cemburuan).
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar