Senin, 03 April 2017

Dismenore; latihan sakit.

Setiap kali dismenore datang, si Mama selalu bilang,
"Udah nggak usah diobatin pake apa-apa. Nikmatin aja. Itung-itung latihan menahan sakit. Dan nggak usah lebay gitu posenya."

Yang tidak sependapat cung tangan!
Saya!
Dismenore atau yang pada orang jawa lebih dikenal sebagai 'dilep' atau 'dilepen'. Adalah nyeri pra-mens, yang mana, sakitnya itu jaaaauh sekali melebihi sakit hati ditinggal pergi (yakali). Atau boleh saja kalau mau disetarakan dengan sakit di semua gigi---berjamaah 32 biji.
Mau dinikmati bagaimana? Latihan menahan sakit biar apa?

"Nanti, kalau sudah hamil, terus melahirkan, baru kamu tahu. Dilepmu yang dramatis itu, kalau mau dibandingin nggak akan bisa nyanding walau seujung kuku. Percaya!"

Oooo....... Paham.
Jadi begitu maksudnya itu. Latihan menahan sakit. Karena sesakit apapun dismenore, dilep, nyeri pra-mens, nggak ada apa-apanya berbanding sakitnya ibu hamil yang sakitnya diakumulasi sampai selama 9 bulan, atau lebih hebat lagi yang sedang lahiran. Uhh!

Maka setiap wanita memang harus kuat. Supaya kuat menanggung kodrat.
Menjaga fitrah untuk selalu mampu menahan apapun yang terjadi pada dirinya. Karena tanpa kekuatan, seorang wanita hanya akan menjadi boneka. Hanya bisa nangkring di pajangan dan nggak akan bisa jadi 'tiang negara'. Cuman bisa berdandan tanpa bisa diandalkan.

Kira-kira seperti itu pesan moral dari dismenore fisiologis ini.

Maka, dengan khidmad saya teriakkan: "Keep strong untuk kita!"
Supaya bisa jadi tiang negara, berdiri jadi pondasi, dan kokoh melindungi. (jadi kayak jargon iklan, ya).
Oke baiklah. Sekian postingan kali ini. Semoga ada aja manfaatnya (entah apa).

Wassalam. 🙏

Ps: ini postingan yang dirilis sambil nyungir-nyungir nahan sakit. Laba'sa tohurun!

Tidak ada komentar: